Mukadimah

Ya Allah, Aku mohon kepadaMu agar Kau catatkan siapa pun yang membaca blog ini, menjadi orang-orang yang Engkau angkat kerajaannya. Engkau ampuni seluruh dosa-dosanya. Engkau buka hati yang tertutup. Engkau lembutkan hati yang keras membatu. Engkau cahayai hati yang gelap gelita. Ya Allah jadikan perkongsian ilmu ini membuatkan sisa umur kami penuh berkah. Terpelihara dari fitnah dan musibah. Ya Allah, aku juga mohon padaMu agar aku dikuatkan iman dan ketaatan padaMU...Ameen.
create your own banner at mybannermaker.com!

May 29, 2010

why blogging

Bak kata ust.Hasrizal

"Menulis bukan untuk memberi TAHU tetapi ingin mencetus MAHU, agar bergerak menuju MAMPU. Pencerahan bukanlah pada mengumpul pengetahuan, tetapi menyuluh jalan kembara insan mencari TUHAN! - Abu Saif

kerna prinsip hidupnya

"Erti Hidup Pada Memberi"


Ust Pahrol

dengan kualiti jiwa, bukan kuantiti harta...

kerna padanya

Dia, anda dan kita semua hanya INGIN jadi baik, belum benar-benar jadi baik.

Kita insan yang sedang bermujahadah..

sepertimana padanya yang cuba ikhlas ketika menulisnya.


and my lecturer

Maznah Daud

And whatever good you do, (be sure) Allâh knows it. And take a provision (with you) for the journey, but the best provision is At-Taqwa (piety, righteousness). So fear Me, O men of understanding! (Al-Baqarah 2:197)



FOR ME

The role of a writer is not to say what we all can say, but what we are unable to say.


SEBAB KEKDG TU AKU SNDRI XTAW NK CKP APE SO JUST WRITING..TP BUKN SUATU LUAHAN HATI OR DIARI DIRI
JUST SMTG TO SHARE WITH U ALL
SHARING IS CARING..CARING IS LOVING

tp dA smtg nk gtw pembaca sekalian

Kejahilan ialah satu kebahagiaan. Jika kamu tidak mengetahui, maka kamu tidak akan di tanya oleh Allah swt ketika hisab. Akan tetapi, jika kamu sudah terbaca artikel-artikel saya, maka akan ada 2 kemungkinan yang akan terjadi kepada diri kamu. Kamu akan mendapati ia benar jauh di sudut hati kamu, jadi hentikan 'bias' dan prejudis kamu, beranikanlah diri kamu dan terimalah ia. Kemungkinan kedua ialah kamu tidak bersetuju dengan apa yang dikatakan oleh saya. Jadi ia akan menjadi satu tanggungjawab agama kamu untuk memberi hujah balas kepada saya, dan membimbing saya ke jalan yang benar, dengan memberi komen kepada saya, atau memberi tahu salah saya, dari e-mail. Jadi fikirlah masak-masak sebelum kamu membaca!! Adakah kamu benar-benar ikhlas dan sedang mencari kebenaran? Tanyalah diri kamu sebelum kamu mula membaca.

badurabakri@gmail.com
SO HOW ABOUT U??

May 26, 2010

10 Reasons You're Not Losing Weight


You’re cutting down on fat, controlling carbs and exercising religiously. So why aren’t you losing weight? Here are 10 things that will derail your quest for a bikini body. Plus, how calorie-conscious are you? Rate yourself…

You’re no slacker when it comes to your health: You exercise, watch what you eat, use portion control, and can resist Ben & Jerry’s without a problem.

May 22, 2010

Ayat-ayat Cinta (7)

“orang ramai bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan lalu saya bertanyakan Baginda mengenai kejahatan,
takut-takut ia menimpa saya.
Maka saya berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami pernah berada di dalam Jahiliyah dan kejahatan lalu Allah datangkan kepada kami dengan kebaikan ini.
Adakah selepas semua kebaikan ini aka nada keburukan?”
. Kata Baginda: “Ya!.” Saya berkata: “Adakah selepas kejahatan ada kebaikan?”.
Baginda menjawab: “Ya! Dan aka nada padanya itu Dakhan”. Saya bertanya apakah dakhan itu?.
Katanya: “Semua kaum yang mengikut hidayah bukan hidayahku kamu kenal mereka dan kamu akan mencegah mereka”.
Saya berkata: “Adakah selepas kebaikan ini akan ada keburukan?” jawabnya: “Ya! Akan ada para pendakwah dipintu-pintu neraka, sesiapa yang menjawab (seruan) mereka akan dicampak ke dalamnya”.
Saya berkata, “Wahai Rasulullah!. Sifatkanlah mereka kepada kami”. Katanya: “Mereka daripada kulit seperti kita dan bercakap dengan lidah seperti kita”.
Saya bertanya: “Maka apakah yang akan tuan suruh saya buat jika saya menemuinya?”. Katanya : “Beriltizamlah dengan Jemaah Muslimin dan pemimpin mereka”.
Saya bertanya: “Jika tidak ada jemaah dan imam?”.
Katanya: “Maka tinggalkanlah semua kumpulan yang ada sekalipun engkau terpaksa berpaut dengan akar pokok sehinggalah kamu mati dalam keadaan begitu”

-Sahih Muslim-
Beriltizam dgn Jemaah

Ayat-ayat Cinta (6)

Doa Zainab Al-Ghazali


“Ya Allah sibukkanlah aku dengan (mengingat)-Mu,

hingga melupakan selain-Mu.

Sibukkanlah aku dengan (mengingat)-Mu,

wahai Tuhanku. Wahai zat Yang Maha Esa, wahai zat Yang menjadi tempat bergantung.

Bawalah aku dari alam kasar (dunia) ini.

Sibukkanlah aku agar tidak mengingat seluruh hal selain-Mu

. Sibukkanlah aku dengan (mengingat)-Mu,

bawalah aku di hadirat-Mu.

Berilah aku ketenangan yang sempurna dari-Mu.

Liputilah aku dengan pakaian kecintaan-Mu.

Berikanlah kepadaku rezeki mati syahid dijalan-Mu.

Karunikanlah kepadaku kecintaan yang tulus kepada-Mu,

keridhaan pada (ketentuan)-Mu dan Ya Allah, teguhkanlah diriku,

sebagaimana keteguhan yang dimiliki oleh para ahli tauhid ya Allah!”


Setelah sekian lama memiliki buku ZAINAB AL-GHAZALI, baru mampu menghabiskannya..

Ya ALLAH...kuatkanlah diri ini...biar pun di mana aku berada..sentiasa mengingati berbanding yang lain..jauhkanlah aku daripada alpha padaMU...Kurniakanlah hati ini seteguh hati Zainab Al-Ghazali...genggamlah aku erat YA ALLAH..janganlah Engkau lepas kan diri ini kerana ujian MU dan cinta pada yang lain..Sesungguhnya Engkau yang menentukan segala-galanya...tanpa bantuanMU..aku tidak berdaya YA ALLAH


May 18, 2010

Muslim hanyalah ilusi

Bismillahirahmanirahim....semasa aku menulis entri kali ini, hujan amat lebat...selebat tangisan GAZA..suasana sesuai dengan post ni..

Umat Islam sedunia dihidangkan dengan pusingan seterusnya kekejaman rejim Zionis ke atas umat islam dan manusia di bumi Palestin. kekejaman yang melampaui batas fikiran manusia yang tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengiyakan apa yang telah diamarankan dalam al-Quran tentang kerosakan besar-besaran pusingan kedua yang dicetuskan oleh kaum Yahudi.

Firman Allah SWT bermaksud:
"dan telah Kami nyatakan kepada Bani Israel di dalam Kitab itu;'Sesungguhnya kamu akan melakukan kerosakan di bumi (Palestin) dua kali, dan sesungguhnya kamu akan berlaku sombong angkuh dengan melampau."(al-Isra':4)

Namun yang perlu kita fikirkan APAKAH KEKALAHAN DEMI KEKALAHAN YANG MENIMPA UMAT ISLAM SELAMA INI BERLAKU TANPA SEBAB?Sesungguhnya mencela kaum yahudi yang melakukan kerosakan, tidak lebih sekadar kata pepatah melayu, SEPERTI MARAHKAN ANJING MENYALAK BUKIT. Yahudi dan kerosakan sudah sinonim, maka janganlah kita sekadar marahkan Yahudi, sebaliknya cerminlah diri kita, apakah yang pernah berlaku kepada umat Islam sendiri?

Jika kita membuka lembaran al-Quran dan mengkaji tentang Yahudi dan Nasrani, maka kita akan dapati keterangan tentang karektor mereka yang bersifat takabbur, dendam kesumat terhadap orang-orang yang beriman, semuanaya menepati realiti. maka orang Yahudi dan Nasrani hari ini adalah Yahudi dan Nasrani yang sejati. namun jika kita amati tentang ciri-ciri orang Islam dan Mukmin, apakah hasil pengamatan kita?

Al-quran menjelaskan orang Islam itu bersaudara, saling bantu-membantu, bersatu padu berpegang tali Allah. namun pada realitinya, berapa jarak di antara diri idaman mereka seperti gambaran al-Quran dengan diri sebenar di dalam realiti kehidupan?

MUSLIM ILUSI BERHADAPAN DENGAN YAHUDI DAN NASRANI REALITI!!!


Realiti sentiasa mengalahkan ilusi. ramainya kita hanyalah ilusi.hakikatnya kita sedikit. kayanya kita hanyalah sebuah ilusi. hakikatnya kita miskin. cerdiknya kita hanyalah sebuah ilusi. hakikatnya kita bodoh. Bersatunya kita hanyalah sebuah ilusi. Hakikatnya kita berpecah. Jika al-Quran menjadi pengukunya, maka Yahudi di Palestin itu adalah realiti. Nasrani di rumah Putih adalah realiti. Namun umat Islam yang mengelilingi Rumah Hitam hanyalah ilusi. Ilusi akan terus dikalahkan oleh realiti.Selagi kita tidak berusaha untuk menjadi mukmin sejati, selagi itulah kita tidak akan diizinkan ALLAH untuk melihat pembebasan Palestin dan Masjid Al-Aqsa.

tragedi di GAZA adalah seruan ALLAH untuk kita kembali kepada Islam. Islam yang tulen. Ibu bapa didiklah anak menjdai Muslim jangan dibiarkan mereka menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Ajarlah anak-anak mencintai kebenaran, keadilan dan memusuhi kezaliman. Agar dengan jiwa yang tulen seorang putera Muslim dan puteri Muslimah dapat mengalahkan Yahudi dan NAsrani tulen.


Firman Allah SWT bermaksud:
"dan jika kamu kembali, maka kami pula akan kembali,"(al-Isra';8)

May 08, 2010

Ayat-ayat Cinta (5)

“Ya Allah, sesungguhnya aku minta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu, dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan ke-Maha Kuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku –atau Nabi bersabda “di dunia atau di akhirat” takdirkanlah untukku, mudahkan-lah jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkanlah persoalan tersebut dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku dimana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku“

May 04, 2010

Kisah Pertunangan Aku...dan kita

Assalamualaikum w.b.t.,

malam ni ada smtg ingin aku coretkan pada rumah ini..tp sebelum tu ingin aku kongsi tentang kisah pertunangan aku..dan boleh jadi kita semua...terimalah...Insyirah-------->nama samaran...hehe



Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah ianya baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya beberapa minggu lalu. Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada. Benar, aku berusaha berlapang dada. Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yang mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah.

Aku hanya seorang Insyirah. Tiada kelebihan yang teristimewa, tidak juga punya apa-apa yang begitu menonjol. Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli mahupun bisu. Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa bercakap dengan lidahku yang lembut tidak bertulang. Sama seperti manusia lain.

Aku bukan seperti bondanya Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku hanya seorang Insyirah yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama... Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini.

Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabiah yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat kedua tangan ku memakai cincin di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan. Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu. Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.

Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila.

"Hari menikah nanti nak pakai baju warna apa?"

Aku menjawab tenang.. "Warna putih, bersih..."

"Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat."

"Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah. Jangan berlebihan."

Ibu angguk perlahan.

Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu... helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh nubari aku sebagai hamba Allah. Malam Pertama... Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mahu saja aku menangis semahunya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang menetapkan tarikhnya kerana aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Mudah-mudahan ya Allah.

Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran. Aku mahu sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang... As-Syifa' aku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resah aku menanti. Benar, aku sedang memujuk gelora hati. Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, begini rasanya orang-orang yang mendahului.

"Kak Insyirah, siapa tunang akak? Mesti hebat orangnya. Kacak tak?"

Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yang singgah. Maaf, aku masih mahu merahsiakan tentang perkara itu. Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahawa aku sudah bertunang, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.

"Insya Allah, 'dia' tiada rupa tetapi sangat mendekatkan akak dengan Allah. Itu yang paling utama."

Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku. Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu diraikan. Aku tersenyum lagi.

"Jangan lupa jemput ana di hari menikahnya, jangan lupa!"

Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya. Apa yang mampu aku zahirkan ialah senyuman dan terus tersenyum. Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan 'dia' yang mendekatkan aku dengan Allah. Sahabiah juga merasa kehilangan ku apabila setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa' ku al-Quran, tidak lain kerana aku mahu kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.

"Bila enti menikah?"

Aku tiada jawapan khusus.

"Insya Allah, tiba waktunya nanti enti akan tahu..." Aku masih menyimpan tarikh keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu bila tarikhnya.

"Jemput ana tau!" Khalilah tersenyum megah.

"Kalau enti tak datang pun ana tak berkecil hati, doakan ana banyak-banyak!" Itu saja pesanku. Aku juga tidak tahu di mana mahu melangsungkan pernikahan ku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati.

"Insya Allah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti..."

Rahsia ku adalah rahsia Allah, kerana itu aku tidak mampu memberikan tarikhnya. Cuma, hanya termampu aku menyiapkan diri sebaiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara terkejut seperti orang lain. Semuanya aku sedaya upaya siapkan, baju menikahnya, dan aku katakan sekali lagi kepada ibu...

"Usah berlebihan ya..."

Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.

"Insyirah, jom makan!"

Aku tersenyum lagi... Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.

"Tafaddal, ana puasa."

Sahabiah juga semakin galak mengusik.

"Wah, Insyirah diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat... Tarikhnya tak tetap lagi ke?"

"Bukan diet, mahu mengosongkan perut. Maaf, tarikhnya belum ditetapkan lagi."

Sehingga kini, aku tidak tahu bila tarikhnya yang pasti. Maafkan aku sahabat, bersabarlah menanti hari tersebut. Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak. Doakan aku, itu sahaja.

............ ......... .....

............ .

"innalillahi wainna ilaihi rajiun..."

"Tenangnya... Subhanallah. Allahuakbar."

"Ya Allah, tenangnya..."

"Moga Allah memberkatinya. ..."

Allah, itu suara sahabat-sahabat ku, teman-teman seperjuangan aku pada ibu.

Akhirnya, aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Sahabiah ramai yang datang di majlis walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.

Akhirnya, mereka ketahui sosok 'dia' yang mendekatkan aku kepada Allah.
Akhirnya, mereka kenali sosok 'dia' yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.
Akhirnya, mereka sama-sama mengambil 'ibrah dari sosok 'dia' yang mengkhitbah ku.

Dalam sedar tidak sedar...

Hampir setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku... Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa'nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi. Sayup-sayup hatinya merintih. Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu.

"Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan 'dia' yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyedarkan aku tentang dunia sementara, yang menyedarkan aku tentang alam akhirat. Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau redhai, aku hamba Mu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui..."

Akhirnya, Khalilah bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian...

"Insyirah bertunang dengan siapa, mak cik?"

Ibu tenang menjawab... "Dengan kematian wahai anakku. Kanser tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya. Kata doktor, Insyirah hanya punya beberapa minggu sahaja sebelum kansernya membunuh."

"Allahuakbar. .." Terduduk Khalilah mendengar, air matanya tak mampu ditahan.

"Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama..."

Ibu angguk, tersenyum lembut... "Ini nak, bukunya." Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr 'Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk 'Malam Pertama di Alam Kubur'.

"Ya Allah, patut la Insyirah selalu menangis... Khalilah tak tahu mak cik."

"Dan sejak dari hari 'khitbah' tersebut, selalu Insyirah mahu berpuasa. Katanya mahu mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan.. ."

Khalilah masih kaku. Tiada suara yang terlontar. Matanya basah menatap kalam dari diari Insyirah yang diberikan oleh ibu.

"Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku di risik oleh MAUT. Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti tarikhnya dengan mendekatkan diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, kerana ibuku bernama Ummu Sulaim, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu dipulangkan apabila ALLAH meminta. Dan ibu mengambil 'ibrah bukan dari namanya (Ummu Sulaim) malah akhlaqnya sekali. Ummu Sulaim, seteguh dan setabah hati seorang ibu."

* Kisah ini bukan kisah ana (Insyirah), ianya kisah KITA (semua yang sedang membaca/tak) *

Mulai hari ini, jangan bersoal tika melihat ana memakai cincin. Kerana, ana sudah bertunang! Bertunang dengan kematian, tidak tahu bila ana akan dinikahkan dan tidak tahu bagaimana rezeki di malam pertama. Tetapi, sekurang-kurangnya apabila sudah dirisik dan bertunang, kita sama-sama akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya walaupun bukan yang terbaik untuk hari pernikahan dengan KEMATIAN. Wallahua'lam.

Cukuplah kematian itu mengingatkan kita... Cukuplah kita sedar kita akan berpisah dengan segala nikmat dunia. Cukuplah kita sedar bahawa ada hari yang lebih kekal, oleh itu sentiasalah berwaspada. Bimbang menikah tergesa-gesa, tahu-tahu sudah disanding dan diarak seluruh kampung walau hanya dengan sehelai kain putih tak berharga.

Setidak-tidaknya, Insyirah (watak di atas) sudah 'membeli' baju pernikahannya. .. Arh... Untungnya Insyirah. (Cemburu! Cemburu! Cemburu!)

~ Kullu nafsin za'iqatul maut ~

From,
Insyirah Soleha,
19 Januari 2010
Baiti

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More